Langsung ke konten utama

The Hustle of A Single Parent: SUSAH SINYAL (Movie by Ernest Prakasa) (1)

Baru kali ini gue bisa ngakak sampai terguling-guling nonton film Indonesia yang disutradarai & ditulis oleh Ernest Prakasa (terkenal dari Stand Up Comedy dari Metro TV).

Ernest Prakasa
Kids, siapa sih yang nggak kenal sama dia? Kalo belom kenal, mungkin dengan usaha gue untuk membuat movie review pertama ini kalian bisa kenal sedikit lebih dekat dengan salah satu karya Ernest. Semoga tidak mengecewakan hehe.



Kalo kalian stuck dengan judulnya, mungkin kalian males nonton. Gue pun begitu. Gue tau Ernest Prakasa sejak dia muncul beberapa kali di Youtube dan sempet tau sedikit tentang acara kompetisi Stand Up Comedy di Metro TV beberapa tahun yang lalu. Tapi gue baru ngeh ketika dia menghasilkan film yang sangat sukses di tahun lalu: Cek Toko Sebelah (click for the trailer). Ternyata seraya saya membuat review ini, ada pula film pertamanya (yang juga cukup sukses) yang diangkat dari cerita kehidupan pribadinya 'ngetawain hidup ala Ernest' berjudul Ngenest (click for the trailer). 

Gue bukan tipe anak Indonesia yang cukup apresiasi sama film Indonesia kebanyakan. Yaaa paling nggak, taunya AADC, Kartini, Laskar Pelangi yang film cem itu yang gue udah pernah nonton. Tapi cem Ayat-Ayat Cinta, Eiffel I'm in Love, cem gitu2 gue gak demen. 

Sejujurnya gue bisa stumble across this movie was because of my mom. My mom, is now an expert in operating Youtube and Spotify or Joox. Yup, she loves to play music with her portable speaker. (Kalo ada orang yang mau nge-hadiahin nyokap gue, please just give her music related stuff *wink*). Ketika kami lagi jalan ke Blok M Plaza di lt. 6, tiba-tiba Ibu nyeletuk: "Ono film Susah Sinyal ra, ya?" Setelah gue cek, ternyata ada sekitar sejam lebih. Trus gue mendadak bingung, like, how does she know the latest movie in town??? Ternyata: "Yo, ibuk ndelok nang Youtube ono video-ne." / "Ibuk liat videonya di Youtube" alias Ibu liat video MOVIE TRAILER-NYA di Youtube. 

Susah Sinyal is an unexpected movie with full of comedic related also very rich with parenting tips. Yup, PARENTING TIPS.


Well, let's start! 
(Review ini akan sedikit mengacak secara plot cerita, karena lebih menekankan kepada cerita anak dan ibu.
Dialog di review ini juga gak persis-persis banget. Inti dialog yang ditulis.)

Konon suatu hari ada keluarga bahagia di awal dan 'cukup bertahan' di tengah-tengah. Seorang ibu single parent bernama Ellen (Adinia Wirasti) memiliki seorang anak perempuan remaja bernama Kiara (Aurora Ribero, btw dia mirip Alicia Vikander ga, sih?). Mereka tinggal bertiga bersama eyang putrinya, Agatha (Niniek L. Karim), dan beberapa asisten rumah tangga yaitu Ngatno (Dodit Mulyanto) dan Saodah (Aci Resti). Mereka saling melengkapi ketika masih ada ketidaklengkapan dalam hidup mereka, yaitu sosok Ayah Kiara. Eyang putrinya menjadi tempat Kiara berlindung dan bersenang hati, di kala Ibundanya yang sibuk berkarir dan menjadi tulang punggung utama bagi keluarganya. Kiara adalah anak yang haus perhatian, meski begitu yang memiliki talenta dalam menyanyi. Ia mengikuti audisi via Youtube untuk The Next Voice Indonesia yang hanya diketahui oleh eyangnya. Sedangkan, Ellen sibuk membangun karir tahap selanjutnya, yaitu membuat law firm sendiri dengan partner kerjanya, Iwan (Ernest Prakasa). 

Saodah, Kiara, Jessi

Si Ibu Ellen

(kiri) Iwan dan (kanan) Ellen
Di kala Kiara sangat membutuhkan eyangnya, Agatha jatuh sakit dan meninggal dunia. Kiara sangat terpukul dan menjauhi ibunya dengan sengaja. Selama ini Kiara hanya bisa berpangku hati kepada eyangnya dan sudah berencana untuk berlibur berdua, tanpa ibunya yang sibuk. 

Hari-hari dilalui dengan suasana duka, tetapi Ellen tetap fokus dengan apa yang ia tahu tanpa menaruh banyak perhatian kepada anaknya (hanya dengan membuat roti lapis dan bergegas pergi ke kantor). Selang waktu berlalu, ketika Ellen sedang bekerja, ia diharuskan datang ke sekolah untuk berhadapan dengan guru BP. Ternyata, Kiara yang berbakat itu telah sekali lagi melawan aturan dari gurunya dengan menggunakan HP di kelas. Guru dengan logat Batak itu seringkali menyindir Kiara yang 'bandel' dengan aktivitas kekiniannya di 'Instajram'.

Ellen, seorang ibu yang tegas dan berpendirian, mendengarkan saran dari guru BP yang baik hati: 

Bu Ellen, saya turut berduka cita atas meninggalnya ibunda Bu Ellen. Ia dulu sangattt perhatian dengan Kiara, ia sering menanyakan kabar Kiara kepada saya. Saya ingin bertanya, apa kabar dengan Ibu Ellen?

Ellen: "Sepertinya kita fokus aja dengan masalahnya Kiara ya, Bu.

Guru BP: "Kalo Mamanya belum bahagia, bagaimana dengan Kiara? Ia pasti melihat dan mencontoh mamanya.

Ellen: (diam sambil berpikir).

Guru BP: "Sebaiknya Ibu Ellen berliburlah dengan Kiara. Ambil beberapa hari untuk mendekatkan diri lagi dengan Kiara untuk spend quality time.

Kurang lebih itulah percakapannya. (Gue nggak inget persis dialognya hehe.) Di perjalanan pulang sekolah, Ellen dengan sedikit segan menawarkan anaknya untuk berlibur berdua. Kiara yang masih bermuka kecut masih enggan untuk diajak bicara. Handphone Ellen berbunyi nyaring pertanda dari partner kerjanya yang membutuhkan Ellen. 

Iwan
Sedikit tentang Iwan, ia adalah karakter pendamping dengan latar tokoh Tionghoa yang perhatian sabar sekaligus konyol. Meskipun begitu, ia adalah sahabat satu-satunya Ellen yang betah dengan perangai Ellen yang perfeksionis. Iwan menjadi rock-nya Ellen alias menjadi supporter-nya di firma baru mereka. Di sela-sela kesibukan mereka membangun firma, Iwan sedang mempersiapkan pernikahannya dengan adat Tionghoa. Mamanya (Dayu Wijanto) yang memiliki usaha toko bangunan, mengurus detail-detail pernikahan seperti warna kain sampai jenis daun teh. Mamanya selalu menelepon Iwan untuk menanyakan preferensinya. Iwan acapkali merasa terganggu dan mengiyakan apapun yang dipilih mamanya. Mama Iwan sendiri adalah tokoh wanita yang perfeksionis dan seorang pemimpin, seperti ibu-ibu pemilik usaha pada wajarnya. Ia menjadi seorang multi-tasker yang dibilang sangat kocak karena terlihat karakter latar budayanya ketika mengatur segala macam urusan.

Mamanya Iwan yang super multi-tasker
Ellen dan Iwan telah bersepakat di awal untuk mencari pegawai-pegawai baru. Yang menarik adalah darimana pegawai itu didapat. Ellen menyarankan untuk mempekerjakan karyawan yang bisa double-work alias jadi OB sekaligus jadi Petugas Resepsionis. Siapa lagi kalau bukan: Ngatno, asisten rumah tangga Ellen yang biasa menyiram tanaman dan sahabat 'berantemnya' Saodah. 

Cassandra (kiri, artis yang minta diurusi kasus perceraiannya) dan Ngatno (kanan)

Saodah.
Foto: Media online Pikiran Rakyat.
Ngatno awalnya nggak mau, tapi setelah kehadiran Astrid (Valerie Thomas), si anak magang blasteran bule nan cantik, ia langsung mengiyakan dengan mengaku-ngaku sebagai Kepala Divisi Rumah Tangga Perusahaan (kurang lebih, gue lupa, maaf yaa kalo salah hehe). 

Astrid, anak magang
Di awal film Kiara sudah sedikit memberikan ciri-ciri keinginannya untuk pergi ke Sumba, NTT dengan membicarakan musik video Andien dengan sahabatnya, Jessi (Cut Beby Tshabina). Kiara mengirimkan SMS untuk mengkonfirmasi keberangkatan berlibur dengan ibunya. Ellen sedikit ragu karena kantor sedang dalam keadaan mengurus kasus perceraian artis. Menurutnya, kasus perceraian itu sangat merepotkan dan sedikit mengingatkan masa lalu ketika ia harus bercerai dengan suaminya. Namun, Iwan meyakinkannya bahwa kasus ini memberikan boost marketing yang sangat baik bagi perusahaan baru mereka. Melihat kegalauan Ellen, Iwan dengan tenang memberikan saran agar Ellen harus pergi liburan dengan Kiara. Meskipun ragu harus meninggalkan perusahaan, Ellen mengukuhkan niatnya. Ia bertanya tentang Sumba kepada para partner kerjanya. "Seriously, guys? Sumba is heaven! I have an aunt there that has a guest house." cetus Astrid, si anak magang dengan polos. Astrid memberikan informasi segalanya tentang akses ke sana, tempat tinggal dan tempat-tempat yang perlu dikunjungi. 

Singkat cerita, tibalah mereka di bandara Sumba. Disambut dengan dua pegawai hotel yang kocak dan ekspresif, Yos (Abdur Arsyad) dan Melky (Arie Kriting), warga lokal Waingapu. Mereka berdua menyambut dengan logat lokal di kala pasangan ibu dan anak ini mencari sinyal handphone mereka. Ellen harus online untuk berkomunikasi dengan partnernya, sedangkan Kiara harus update perihal pengumuman audisi dan kerjaan endorsement-nya. 

Ellen: "Eh, di sini emang susah sinyal ya?"
Yos / Melky: "Oh di sini tu orang suka bilangnya GSM alias 'Geser Sedikit Mati'. 

Yos dan Melky
Mobil hotel naik turun bergronjalan mengikuti jalanan Desa Waingapu yang terpencil. Mereka masih sibuk mengecek sinyal. Sesampainya di hotel mereka bertemu dengan Tante Maya, yang notabene tantenya Astrid (ingat kan dia sedikit blasteran bule nan cantik?), pemilik Humba Sunrise Hotel. Setelah kamera mengarahkan ke wajah Tante Maya, ternyata sama sekali tidak mirip, bahkan lebih Jawa nan medhok. Tante Maya mengenalkan salah satu pegawai muda nan ganteng (:D) bernama Abe. Sekiranya, ia menarik hati Kiara yang tadinya bermuka kecut karena tidak ada jaringan internet, setelah melihat Abe dia langsung bilang: "Iyaa, gapapa. Hehehehehe." #terpincut.

Paling kiri: Tante Maya

Ellen, Kiara dan Abe (#terpincut)
Hari itu mereka makan malam bersama dengan seluruh pengunjung Humba Sunrise Hotel. Ada Koh Candra (Chew Kinwah) seorang pengusaha sukses, dengan istri baru (dan muda) bernama Siti (Selfi Nafilah), seorang penyanyi dangdut. Ada pasangan yang menikah baru 3 hari dan masih unyu-unyuan, Angel (Angie Ang) dan Charles (Ge Pamungkas) (Charles tukang takut sama ikan dan kecoa, tangga dan semua-muanya, #hadeuh) dan ada mereka berdua, Ellen dan Kiara, duduk bersebrangan. Sambil bercanda ria mereka melalui malam itu dengan mengenal satu sama lain. 

foto: media online Pikiran Rakyat
Malam itu Kiara mendengar nyanyian Abe dan mengobrol tentang lagu-lagu daerahnya. Mereka saling tertawa dan menikmati indahnya langit di tepi pantai. Tante Maya yang sudah tau (sudah terlihat dari paras kejutekan Kiara) sulitnya hubungan Ellen dan Kiara, lebih mendukung mereka berdua agar lebih dekat lagi di kala liburan ini. Ellen senang melihat Kiara tertawa lagi, yang sempat hilang ketika eyangnya meninggal.

Keesokan harinya, Kiara marah-marah karena kipas mati dan listrik sama sekali tidak nyala selama malam hari. Yos, dengan sapaan paginya yang ramah dan kocak, memberitahu bahwa listrik memang sengaja tidak dinyalakan sejak sore pkl. 6 sampai dengan 6 pagi. "Jadi, listrik mati sampe 12 jam?" Kiara bertanya sambil membentak. "E....1,2,3,4, e.... iya betul. Wah, nona cepat skali ya berhitung!" kata Yos. Lalu Ellen keluar sambil bertanya ada apa gerangan. Kiara benar-benar kesal bercucuran keringat karena udara sangat panas, tida ada kipas, tida ada WiFi, tentunya bukan liburan seperti yang ia bayangkan. Ia bergegas pergi. Ellen kemudian meminta maaf dengan Yos karena sikap anaknya yang rada-rada KZL-in. 


Ugh unyu ngets....
kudanya.
Jadwal jalan-jalan tidak diikuti oleh Kiara atas izin ibunya. Ia pergi bersama Abe (:D) untuk pergi ke pasar membeli bahan-bahan makanan. Pesan satu-satunya adalah agar Kiara pulang sebelum malam tiba. Dimulailah petualangan mengarungi indahnya alam Sumba. Jalanan masih sangat susah dilalui oleh mobil. Sampai di titik gapura menuju air terjun, mereka harus berjalan kaki menaiki bukit untuk menuruni bukit ke air terjun. Sungguh perjuangan bagi orang-orang kota. Lagi-lagi Charles membuat ulah dengan rengekannya yang sangat takut menuruni tangga dan takut terhadap tongkat kayu #hadeuh.

Charles dan Angel
Tibalah mereka di air terjun yang ditunggu-tunggu. Air terjun yang sangat indah mengalir seakan mengundang untuk bergabung. Ellen menantang Yos untuk lompat dari batu, mulai dari yang terendah sampai dengan tertinggi. Cara untuk memancing Yos untuk nyemplung adalah dengan 'menyuap' sampai dengan Rp 500.000, yaitu di puncak tertinggi. "Bu Ellen, 500ribunyaaaa."

Sepulangnya ke hotel, Ellen belum bisa menghubungi anaknya. Hingga pada pukul 7.30 malam, Kiara pulang dengan gembira. Menceritakan petualangan serunya bersama Abe. Namun, kegembiraan itu diberhentikan oleh Ellen karena ia sangat frustasi ketika ia tidak bisa dihubungi dan tidak menepati janji. Kiara memberikan alasan yang logis dan meminta maaf. Ellen menjawab: "Don't say sorry if you didn't mean it.". Kiara sedih dan bergegas keluar dari kamar. 

(to be continued)

nah sampe di sini dulu ya wankawan, karena banyak nih yang mau gue ceritain. Stay tuned yaaa!






Komentar

Postingan populer dari blog ini

tentang CELLO CHURMACHAN

Biodata

nama lengkap: CELLO CHURMACHAN

tempat lahir: -tidak diketahui-

tempat tinggal: Jln. Sumenep no 11, Menteng, Jakarta Pusat

nomer di telinga: 474

nomer telepon: panggil saja "CELLO!"


itulah biodata singkat dari anjing ini. anjing ini cukup unik dan kehadirannya sangat mengejutkan karena dia datang secara tiba-tiba di rumah eyang saya di Menteng, Jak-Pus ini. begitupula dengan sikapnya yang sedikit out of normal. tidak diketahui mengapa dia mempunyai kepribadian yang sungguh diluar kewajaran seekor anjing.

Riwayat Singkat
dia datang ke Sumenep No. 11 ini tanpa ekspetasi dari penghuni rumah. dia datang sendiri dengan disambut oleh 2 ekor anjing lainnya bernama Gupi dan Modena. Gupi sudah sejak lama tinggal di rumah Nomer 11 ini, sedangkan Modena, sang anjing betina nan anggun dan bohay, datangnya pun tak diharapkan dan pada saat itu kondisinya sangat mengenaskan (kurus dan tak terawat). Modena sudah meninggalkan rumah Nomer 11 ini dan juga meninggalkan dunia fana pada sekitar bu…

Mind Talks

I have this mind that talks too much at night and get silent when I reach out in the morning. Some people deal with that everyday. They get really deep at night and have this wild imagination scrambling across their pillow. They have this lucid dream, and when they wake up, their energy was drained. Insecurities about their future mostly landed at night, but at the same time, best ideas comes when they reach their beds, tuck their pillow, hoping to have a good night sleep, but ended up looking at the ceiling with eyes wide open. 
Those things, happened to me. In my experience, night time is when my brain is fully awake, but my body feels like shit. I am not a morning person. When I woke up, I feel like shit all over again. It started when I was probably (yes, probably) reach my university years. I moved out from my house and rent a room near my university and started a life which was free and exciting. Studying architecture was the most challenging and exciting which brought me to a …